Jumat, 10 Juli 2015

LAPORAN KUNJUNGAN RUMAH PEMOTONGAN AYAM (RPA)



LAPORAN KUNJUNGAN
RUMAH PEMOTONGAN AYAM (RPA)






OLEH :
NOVI RIZKI AULIA
PO 7131114 022
DIV GIZI IA




KEMEMTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN GIZI
2014/2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang  telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan laporan ini  yang  Alhamdulillah  tepat pada waktunya  yang  berjudul “Kunjungan RPA”.
Laporan iniberisikan tentang informasi tentang penjelasan kegiatan  yang dilakukan  di  RPA. Diharapkan laporan ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang kegiatan  di RPA.
Saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan   saran  dari semua pihak  yang  bersifat membangun selalu diharapkan demi   kesempurnaan laporan ini.
Akhir  kata saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak  yang  telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga  Allah  SWT  senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.


Mataram, 15 Desember 2014


                        Penyusun

   
  


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat, perlu ditunjang peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas.  Pangan dan gizi merupakan salah satu unsur yang penting dan strategis, implikasinya adalah penyediaan, distribusi dan konsumsi pangan, dengan jumlah, keamanan dan mutu gizi yang memadai, harus benar benar terjamin.
Pangan dan gizi merupakan unsur yang sangat penting dalam menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, karena pangan selain mempunyai arti biologis juga mempunyai arti ekonomis.Implikasinya adalah penyediaan, distribusi, dan konsumsi pangan dengan jumlah, keamanan, dan mutu gizi yang memadai harus benar-benar terjamin, sehingga dapat memenuhi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan pola makan dan terpenuhinya kondisi hidup yang sehat.
Tersedianya produk pangan yang aman harus ditunjang oleh bahan baku yang berkualitas.  Salah satu mata kuliah dalam kurikulum Jurusan Gizi Poltekkes yang berkaitan dengan hal tersebut adalah Mata Kuliah Ilmu Pangan Dasar yang mempelajari tentang pengetahuan berbagai bahan makanan sebagai bahan baku dalam produksi pangan. Mahasiswa Politeknik Kemenkes Mataram Jurusan Gizi, sebagai calon Ahli Gizi, berkepentingan untuk mempelajari kualitas bahan pangan. Bahan pangan dan gizi sangat erat kaitannya, dalam hal ini kebutuhan zat gizi seseorang dipengaruhi oleh makanan yang dimakan, tersedinya bahan pangan yang berkualitas sehingga menghasilkan olahan makanan yang berkualitas pula.
Dengan demikian untuk mengetahui kualitas dari suatu bahan pangan diperlukannya kegiatan kunjungan langsung ketempat pemotongan hewan yaitu, bertempat di Rumah Pemotongan Ayam (RPA) Karang Baru. Sehingga diperoleh beberapa informasi yang jelas dari proses penanganan ayam dari sebelum diptong  hingga pemasarannya.

1.2  Tujuan Kunjungan
Adapun tujuan dilakukannya kunjungan ini adalah :
a.       Tujuan Umum
Untuk mengetahui tata cara penanganan hewan, proses, serta kualitas dari suatu bahan pangan yang dihasilkan dari suatu institusi.


b.      Tujuan Khusus
1.      Untuk mengetahui gambaran umum seperti sejarah, pengelolaan, ketenagaan dan lainnya di Rumah Pemotongan Ayam (RPA).
2.      Untuk mengetahui jenis, jumlah, mutu organoleptik, fisik bahan pangan dari berbagai golongan.
3.      Untuk mengetahui cara penentuan mutu bahan pangan di lokasi pemotongan.
4.      Untuk mengetahui standar mutu fisik dan organoleptik yang diterapkan terhadap berbagai golongan bahan pangan.
1.3  Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakan kunjungan adalah :
Hari/tanggal          : Rabu, 10 Desember 2014
Tempat                  : Rumah Potong Ayam (RPA) Karang Baru
Waktu                   : 05.30 selesai












                                                                                                                                      













BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Profil Rumah Pemotongan Ayam (RPA) Karang Baru
a.      Sejarah
Rumah Potong Ayam (RPA) Karang Baru ini merupakan salah satu RPA yang terdapat di Mataram. Rumah potong ayam milik pak H. Fauzan ini awalnya dimulai pada tahun 1992 dengan modal 5 ekor ayam menjadi 10 ekor, 50 ekor hingga 100 ekor. Sarana-sarana yang terdapat dan tersedia di RPA Karang Baru seperti kandang ayam, tempat pemotongan serta tempat pembersihan ayam setelah dipotong.
RPA Karang Baru merupakan RPA yang bersifat pelayanan, yaitu menyediakan tempat pemotongan ayam boiler dan pemeliharaan (penampungan) ayam sementara (transit). Proses pemotongan secara berangsur-angsur sesuai dengan jumlah permintaan.
            Keberadaan RPA ini tidak menggangu warga setempat karena bekerja sama dengan Dinas Kebersihan.
b.      Lokasi
Rumah Potong Ayam tersebut beralamat di jalan Sutomo No. 25 Karang Baru
2.2  Cara Penentuan Mutu Bahan Pangan
Kesehatan dari ayam-ayam yang dipotong di RPA Karang Baru ini sudah terjamin. Hal ini terlihat bahwa pada saat pengambilan/pengangkutan, terlebih dahulu diperiksa (diseleksi) oleh perusahaan penyalur ayam. Kalau ada ditemukan ayam yang sakit maka ayam itu akan dikembalikan ke penyalur ayam, 25% kematian terjadi saat ayam-ayam diperjalanan.
Adapun ciri-ciri ayam broiler yang baik adalah sebagai berikut:
1.      Berukuran seragam, sesuai dengan umurnya.
2.      Dada lebar dan terkesan penuh
3.      Kaki pendek, kulit halus dengan tapak kaki berdaging tebal
4.      Semakin tua umur ayam broiler, maka semakin banyak pula lemaknya, terutama di bagian ekor, leher, dan dibawah kulit serta di sekeliling jeroan
5.      sedangkan ciri-ciri lainnya adalah sama dengan jenis ayam yang lain, yaitu memiliki kepala, ekor, sayap, dan kaki.
Untuk dapat menghasilkan ayam pedaging yang berkualitas baik, maka perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
-   Dipelihara dalam kandang tertutup selama 2 minggu dan diberi pemanasan
-   Pemberian pakan dilakukan sebanyak 8 kali sehari tetap memperhatikan standar kebutuhan DOC
-   Ayam hendaknya diberikan vaksin untuk menghindari terjangkitnya penyakit pada ayam
-   Menangani kegiatan peternakan dengan sebaik-baiknya, didukung oleh tenaga kerja yang baik dan ahli bidangnya pula.
2.3  Pengadaan Ternak Potong
Ayam yang dipotong di RPA Karang Baru ini adalah khusus ayam broiler, proses ayam mulai dari sebelum pemotongan sampai pemotongan:
1.      kandang dibersihkan, biasanya setelah 18-20 hari dan kotorannya dibuang di sawah yang sudah sengaja dibuatkan dan akan diambil sebagai pupuk.
2.      Setelah ayam tiba dipenampungan, ayam-ayam tersebut dipuasakan agar tidak terlalu banyak susut pada daging. Umur ayam yang biasanya dipotong yaitu 35-40 hari. Ayam-ayam ini didatangkan dari peternakan ayam se-Lombok, seperti Lombok Tengah, Lombok Timur, dan Lombok Barat, dimana ayam-ayam ini datang jam 6 sore. RPA Karang Baru ini bekerja sama dengan PT. NJ (Nusantara Jaya) dan PT. RAS (Renjani Agung Sentosa), kesemuanya ini bekerja menggunakan system mitra.
2.4  Proses pemotongan ayam
Ayam-ayam ini dipotong mulai dari jam 5 pagi, dengan proses pemotongan secara tradisional. Cara pemotongan yang masih tradisional ini mampu memenuhi lebih dari setengah jumlah ayam yang dipotong. Peralatan dan tata cara pengolahan yang masih sederhana.
Tujuan dari pemotongan adalah untuk menghindari kematian banyak, karena ayam tidak tahan dengan suhu yang terlalu dingin atau panas. Daya tahan tubuh ayam jantan lebih bagus daripada ayam betina.
Tahap-tahap pemotongan ayam di RPA Karang Baru adalah sebagai berikut:
a.       Ayam diambil dari kandangnya, kemudian diangkat menuju tempat pemotongan.
b.      Sebulum dipotong, ayam-ayam ini terlebih dahulu dimasukkan ke dalam box semen, dan dikeluarkan kembali untuk disembelih. Cara penyembelihannya menggunakan cara tradisional yaitu dengan menggunakan pisau. Setelah disembelih dimasukkan ke dalam tong agar darahnya tidak menyebar kemana-mana. Pemotongan dilakukan secara bertahap.
c.       Setelah dipotong, kemudian ayam-ayam tersebut direndam dalam air hangat, agar bulu-bulu ayam mudah dibersihkan dan menghilangkan bakteri yang ada pada ayam tersebut. Biasanya proses pembersihan bulu ayam membutuhkan waktu 1-2 jam.
d.      Ayam yang sudah bersih dari bulu-bulunya dibersihkan lagi di air bersih agar daging ayam tidak berwarna merah, setelah itu dipisahkan kepala, tempurung, usus, ceker, dan hatinya.kemudian dibawa ketempat pemotongan bagian dagingnya dan ditimbang sesuai dengan pesanan.
2.5  Penyabab terjadinya penyakit yang menyerang ternak ayam
Adapun penyebab penyakit-penyakit yang menyerang ternak ayam sebagai berikut:
1.      Penyebab hidup (Living Agent)
a.       Jasad Renik (Mikroba): bakteri, virus, kapang, riketsia, protoza, dan binatang bersel satu lainnya.
b.      Cacing: cacing bulat, pipih, dan cacing pita
c.       Insekta: kutu, lalat, dan lain-lain
2.      Penyebab tidak hidup (Non Living Agent)
Seperti cengkaman temperature tinggi atau rendah, keracunan bahan kimia atau nabati, defisiensi makanan dan kelebihan unsur makanan.
Penyakit ayam dapat menyebar dan menular secar cepat dengan tingkat kenaikan tinggi, misalnya : penyakit mikroba, tetapi ada juga penyakit ayam yang menular secara lambat dan tingkat kematian rendah, misalnya: penyakit parasit, cacing, dan ektoparasit (parasit yang hidup diluar tubuh ternak), seperti: kutu (gurem)
Penyakit endoparasit (parasit yang hidup didalam tubuh ternak) dan ektoparasit ini tidak menyebabkan angka kematian yang tinggi, tetapi sangat mengganggu kesehatan ternak ayam dan menurunkan produktifitasnya.


2.6  Pemasaran
Biasanya daging ayam di RPA Karang Baru ini didistribusikan ke pasar-pasar tergantung kemana pemesan mendistribusikan pesanan. Pedagang pengumpul merupakan jembatan antara peternak dan pedagang di bawahnya (pengecer) yang banyak hadir dalam rantai pemasaran. Pendistribusian daging ayam dilakukan langsung oleh pembeli yang membeli secara langsung ke tempat pemesanan oleh pemilik RPA.
Untuk mendapatkan daging ayam dengan kualitas yang baik, kita harus dapat membedakan daging ayam yang masih segar dan sebaliknya, maupun ayam yang sudah mati kemudian dijual. Biasanya daging yang sakit berwarna merah.
Adapun ciri-ciri ayam mati yang dijual di pasar yaitu:
-          Jantung berwarna biru dan berbintik-bintik
-          Warna daging sangat pucat
-          Jika ditemukan daging ayam yang berwarna sangat merah, perlu dicurigai bahwa warna merah tersebut adalah pewarna buatan untuk menutupi warna daging asli yang pucat. Untuk itu perlu dilakukan pengecekan, seperti menorah dengan menggunakan pisau untuk membuktikan daging tersebut menggunakan pewarna atau tidak. Jika daging dibawah kulit berwarna kepucatan, itu menandakan bahwa daging ayam tersebut bukanlah daging ayam segar, melainkan daging ayam mati.













BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa :
·         Rumah Potong Ayam (RPA) terletak di Jalan Sutomo No. 25 Karang Baru
  • Jenis ayam yang dipotong di RPA Karang Baru, adalah jenis ayam broiler yang didatangkan dari beberapa daerah di Lombok
·         Proses pemotongan ternak di Rumah Potong Ayam (RPA) Karang Baru masih menggunakan cara tradisional
  • Pendistribusian ayam broiler yang sudah dipotong biasanya dilakukan oleh para pedagang pengumpul atau pengecer. Biasanya ayam didistribusikan ke pasar-pasar.
  • Penyebab penyakit tersebut terbagi menjadi dua, yaitu berupa penyebab hidup dan tak hidup..
3.2  Saran
Dari kesimpulan di atas terdapat beberapa saran, yaitu pemilihan ayam sebaiknya dilihat dari segi proses pemeliharaan, tempat pemotongannya, dan mengetahui tingkat kesehatan dari ayam tersebut agar dapat menjadi makanan olahan yang sehat bagi tubuh.


















DAFTAR PUSTAKA
Aprilandini, W., 2011, Kunjungan Rumah Pemotongan Hewan, Ilmu Pangan Dasar,   http://widhaaprilandini.blogspot.com/2011/12/kunjungan-rumah-pemotongan-ayam-rpa.html?m=2, diakses tanggal 14 Desember 2014
Buckle, K.A. 1987. PENGELOLAAN PETERNAKAN PEDAGING UNGGAS                  
                  PEDAGING. Yogyakarta: Kanisius.
Widjaya, K, dan Abdullah S. 2003. PELUANG BISNIS AYAM RAS DAN BURAS.
                   Jakarta: Penebar Swadaya.
Langsung dari Narasumber yaitu Bapak H. Fauzan.




























LAMPIRAN
DOKUMENTASI KUNJUNGAN

 
 
 


  

LAPORAN KUNJUNGAN TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI)



LAPORAN KUNJUNGAN
TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI)






OLEH :
NOVI RIZKI AULIA
PO 7131114 022
DIV GIZI IA




KEMEMTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN GIZI
2014/2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang  telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada saya sehingga saya berhasil menyelesaikan laporan ini  yang  Alhamdulillah  tepat pada waktunya  yang  berjudul “Kunjungan TPI”.
Laporan iniberisikan tentang informasi tentang penjelasan kegiatan  yang dilakukan  di  TPI. Diharapkan laporan ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang kegiatan  di TPI.
Saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan   saran  dari semua pihak  yang  bersifat membangun selalu diharapkan demi   kesempurnaan laporan ini.
Akhir  kata saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak  yang  telah berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga  Allah  SWT  senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.


Mataram, 23 Desember 2014


             Penyusun




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Perkembangan ilmu dan teknologi yang pesat, perlu ditunjang peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas.  Pangan dan gizi merupakan salah satu unsur yang penting dan strategis, implikasinya adalah penyediaan, distribusi dan konsumsi pangan, dengan jumlah, keamanan dan mutu gizi yang memadai, harus benar – benar terjamin.
Pangan dan gizi merupakan unsur yang sangat penting dalam menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, karena pangan selain mempunyai arti biologis juga mempunyai arti ekonomis.Implikasinya adalah penyediaan, distribusi, dan konsumsi pangan dengan jumlah, keamanan, dan mutu gizi yang memadai harus benar-benar terjamin, sehingga dapat memenuhi kebutuhan seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan pola makan dan terpenuhinya kondisi hidup yang sehat.
Tersedianya produk pangan yang aman harus ditunjang oleh bahan baku yang berkualitas.  Salah satu mata kuliah dalam kurikulum Jurusan Gizi Poltekkes yang berkaitan dengan hal tersebut adalah Mata Kuliah Ilmu Pangan Dasar yang mempelajari tentang pengetahuan berbagai bahan makanan sebagai bahan baku dalam produksi pangan.Mahasiswa Politeknik Kemenkes Mataram Jurusan Gizi, sebagai calon Ahli Gizi, berkepentingan untuk mempelajari kualitas bahan pangan.Bahan pangan dan gizi sangat erat kaitannya, dalam hal ini kebutuhan zat gizi seseorang dipengaruhi oleh makanan yang dimakan, tersedinya bahan pangan yang berkualitas sehingga menghasilkan olahan makanan yang berkualitas pula.
Dengan demikian untuk mengetahui kualitas dari suatu bahan pangan diperlukannya kegiatan kunjungan langsung ketempat pelelangan ikan yaitu, bertempat di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar, Lombok Timur. Sehingga diperoleh beberapa informasi yang jelas.

1.2  Tujuan Kunjungan
Adapun tujuan dilakukannya kunjungan ini adalah :

a.       Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengetahui mutu dan penanganan terhadap berbagai golongan bahan pangan.

b.      Tujuan Khusus
-          Menjelaskan gambaran umum (sejarah berdiri, lokasi, status kepemilikan, jenis bahan pangan, pemasaran, dll.)
-          Mengidentifikasikan jenis, jumlah, mutu organoleptik, fisik bahan pangan dari berbagai golongan.
-          Menjelaskan setiap tahap penanganan bahan pangan di berbagai lokasi sumber bahan pangan.
-          Mengidentifikasikan standar mutu fisik dan organoleptik yang diterapkan terhadap berbagai golongan bahan pangan.
-           
1.3  Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakan kunjungan adalah :
Hari/tanggal          : Sabtu, 20  Desember 2014
Tempat                  : Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
Waktu                   : 09.00- selesai
















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Profil Tempat Pelelangan Ikan (TPI)
a.      Sejarah
TPI (tempat Pelelengan Ikan) berdiri sejak tahun 70-an yang dulunya bernama Resort Perikanan yang awalnya sebuah komunitas. Dan dulunya pada zaman penjajahan Belanda, pada waktu itu ada pendaratan dari beberapa nelayan Hindia-Belanda yang ramai dan semakin lama berkembang terus menerus.. Kemudian pada tahun 1991 Pemerintah Provinsi dan daerah membangun dan meresmikan secara permanent.
b.      Lokasi
Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak. Dengna luas area 2 hektar.
c.       Satatus kepemilikan
Milik Pemerintah Provinsi dinamakan PPI (Pusat Pendaratan Ikan), sedangkan milik Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dinamakan TPI (Tempat Pelelangan Ikan).
Kegiatan yang dilakukan di TPI ini berlangsung mulai dari jam 5 subuh sampai jam 10 pagi.
d.      Struktur Organisasi
1.    Pemimpin             : A. S. Syamsudin
2.    Kasubang TU       : Rosidi Arham, SPI.
3.    Bendahara            : Edi Kusuma
4.    Sesksi lelang         : Moh. Tahir
5.    Seksi Pungut        : Alwi
6.    Kebersihan           : Pak Eka dan Pak Awong
2.2  Armada TPI Tanjung Luar
TPI Tanjung Luar memiliki armada yaitu armada kapal yang di atas 5 gt (gros ton) tapi dibwah 10 gt sebanyak kurang lebih 35. Sedangkan untuk perahu nelayan lokal/tradisional yang masyarakan sebut sampan yang tenaga mesinnya menggunakan mesin ktitinting dengan kapasitas 5,5 pk yang belum didata secara pasti tetapi yang diketahui ada sebanyak 1000 unit milik nelayan di ruang lingkup TPI Tanjung Luar.

2.3  Teknik Penangkapan Ikan
Penangkapan ikan dilakukan dengan menggunakan alat yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan jaring dan pancing khusus ikan laut. Ada 2 jenis ikan berdasarkan tempat tinggalnya, ada yang disebut ikan air laut dalam, dan ada ikan air laut permukaan. Atau bisa dikatakan ikan  dimarsal dan ikan peragis. Kedua jenis ikan ini ditangkap dengan cara yang berbeda, ikan permukaan biasanya ditangkap dengan glinet, jarring insang, sedangkan ikan dasar/laut dalam ditangkap dengan menggunakan pancingan. Adapun ciri-ciri dari ikan tersebut, yaitu: ikan permukaan biasanya tidak bersisik/bersisik kecil, sedangkan ikan laut dalam bersisik besar.
            Biasanya iakn hiu ditangkap dengan menggunakan pancing, penangkapan ikan dengan pancing juga lebih bagus karena lebih tahan lama. Hasil penangkapan perharinya bisa mencapai 100 ekor. Hiu boleh diperbolehkan ditangkap di Indonesia yang tidak diperbolehkan adalah ikan lumba-lumba, dan paus. Ada sekitar 20 speies ikan hiu yang ada, seperti hiu martil, hiu botol, hiu macan, dll.
Penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan biasanya dalam waktu seminggu dilaut, ikan-ikan ini ada juga yang ditangkap diperbatasan Australia. Semakin cepat para nelayan tersebut kembali kedaratan maka kualitas ikan yang ditangkap semakin bagus, begitu juga sebaliknya. Apabila nelayan berada terlalu lama dilaut maka kemungkinan ikan yang didapat kualitasnya sudah menurun.
            Hasil penangkapan ikan yang didapat para nelayan biasanya langsung dibawa ke TPI, tetapi ada juga yang disimpan 1-2 minggu.
Hasil penangkapan ikan juga tergantung pada kondisi bulan, apa bila bulan terang hasil penangkapan berkurang karena ikan-ikan menyebar mencari makan. Tetapi pada bulan gelap hasil penangkapan ikan akan banyak.

2.4  Produksi Ikan dan Pemasaran Ikan TPI Tanjung Luar
Dari armada tersebut memprofuksi rata-rata per harinya sekitar 4 ton dari berbagai jenis ikan tapi tergantung pada cuaca,musim,angin, gelombang, dan lain sebagainya. Pada saat musim ikan, TPI ini dapat menghasilkan 20 ton ikan/hari tetapi di lain sisi pada saat tidak musim ikan TPI akan sangat sepi karena tidak ada ikan yang naik saat di tangkap.
TPI ini mempunyai armada penangkapan ikan, produksi ikan bisa dilihat dari bulan apa saja dari produsi tersebut (jenis ikan dan jumlah ikan yang ditangkap bia lihat didalam tabel). Biasanya kapal-kapal besar berlayar rata-rata ke tengah laut antara 1 minggu sampai 15 hari tergantung dari sulit tidaknya penangkapan ikan. Sehingga lama dalam proses cepat kapal itu balik ke daratan.
Semua jenis ikan dijual di sini, mulai dari ikan hiu sampai ikan-ikan kecil lainnya.Di TPI ini tidak ada istilah ikan yang dibuang, hampir setiap ikan yang dibawa nelayan dirjual sapai habis dengan harga yang berbeda. Untuk kelancaran penjualan ikan, TPI ini mempunyai armada penjualan ikan dengan menggunakan motor sebanyak 50 unit. Aksesnya mulai dari Lombok Timur, Lombok Tengah, Kutaraja, Ampenan, Mataram, sampai daerah pegunungan.
            Pemasaran ikan dilakukan ke daerah sekitar Lombok Timur secara keseluruhan, Lombok Tengah, dan Mataram dengan menggunakan mobil box dan sepedah motor box pula yang jumlahnya cukup banyak.
2.5  Penanganan  Ikan
. Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan langsung dijual kekonsumen dalam keadaan msih segar, ada juga yang disimpan di dalam ember berisi es batu untuk memperlambat ikan mengalami kerusakan/menjaga kualitas ikan
TPI ini tidak bekerja sama dengan petugas kesehatan dalam memeriksa kualitas ikan yang ada, tapi tetap diadakan pengujian sempel yang dikirim pihak TPI ke Dinas Provinsi setiap bulannya, dan tidak pernah ditemukan kasus ikan yang diawetkan dengan formalin dan sebagainya.
            Bebrapa penanganan ikan selain di simpan didalam ember berisi es batu, agar iakan lebih tahan lama juga dilakukan pemindangan dan pengasinan. Pemindangan masih dilakukan dengan alat yang sederhana yaitu dengan tungku api, sedangkan alat yang dilakukan untuk pengolahannya adalh drum dan baskom yang tebuat dari besi. Alat yang digunakan dalam proses pemindangan tidak mempengaruhi hasil olahan, karena yang mempengaruhi adalah bahan baku. Para pengelola juga sudah menyediakan alat yang lebih praktis dan lebih moderen, tetapi para penjual lebih suka menggunakan alat sederhana. 1 tungku untuk pemindangan disewa dengan harga Rp 1000,-  dengna ongkos pemindangan Rp 7000 per baskomnnya. Biasanya yang dipindang adalah ikan kecil-keci, ikan tongkol, dan cumi-cumi.
Sinitasi di TPI ini memang kurang bersih dan kurang bagus, tetapi pihak pengelola selalu berupaya mengatasi sinitasi tersebut dengan dipekerjakannya petugas yang akan membersihkan limbah-limbah tersebut dengan adanya 2 gerobak yang akan mengangkut limbah tersebut. Selain pengelola, Pemerintah juga tetap melakukan pembaharuan untuk mengatasi masalah sinitasi, tetapi anggaran dana selalu menjadi kendalanya.
Limbah ikan yang ada juga tidak terbuang percuma, karena limbah ikan tersebut juga bisa bernilai ekonomis. Ampas ikan dijadikan pakan ternak, sebelum dijadikan ampas diolah dulu menjadi minyak ikan hiu. Ikan hiu yang rusak juga tetap bernilai ekonomis, yaitu dengan diawetkan, dan akan dikirim ke Pulau Jawa, begitupun ikan-ikan lainnya yang kurang layak untuk dikonsumsi.
2.6  Ciri – Ciri Ikan yang Baik
Adapun cirri-ciri yang baik adalah sebagai berikut :
1.      Kelenturan daging
2.      Keadaan mata yang cerah
3.      Keadaan insang yang warnanya masih merah cerah dan sisiknya masih kuat (melekat) dan tidak mudah dilepaskan dari tubuhnya.
·         Komponen-komponen terbesar dalam daging ikan adalah :
1.      air, kadarnya berkisar 70-80 % dari berat daging yang dapat dimakan. Semakin tinggi kadar air semakin rendah kadar lemaknya.
2.      Protein, kadarnya 18-20 %. Oleh karena aktifitas enzim dan reaksi biokimia serta bacterial, molekul protein dapat ditaikan menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana yakni asam amino yang penting bagi pertumbuhan tubuh.
3.      Lemak dan komponen-komponen lainnya, karbohidrat, garam-garam mineral, vitamin, pigmen, cita rasa, dan lain-lain.
4.      Pembusukan pada ikan dipengaruhi oleh faktor suhu lingkungan, juga oleh sifat daging itu sendiri terutama air, pH dan potensial oksidasi reduksinya, kadar glikogen rendah, dan tingginya jumlah bakteri yang terkandung dalam perut ikan.


BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa :
·         TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang ada di tanjung luar ini merupakan salah satu tempat yang menyediakan berbagai jenis ikan
·         Penangan ikan yang dilakukan di TPI ini tidak hanya dengan menyimpannya di dalam ember berisi es, tetapi juga dilakukan pemindangan dan pengasinan agar ikan lebih tahan lama.
·         Sinitasi di TPI ini kurang bagus dan kurang bersih, tetapi pihak pengolola dan pemerintah terus berusaha untuk mengatasinya.
3.2  Saran
Dari kesimpulan di atas terdapat beberapa saran yaitu, saat memilih ikan pilihlah ikan yang masih segar, mata cerah, warna insang merah cerah, sisiknya kuat (tidak mudah dilepaskan dari tubuhnya), dagingnya lentur apabila daging ikan dibengkokkan maka akan segera kembali kebentuk semula, daging ikan masih kenyal, belilah ikan yang masih hidup.









DAFTAR PUSTAKA

Tarwotjo, C. Soejoeti. 1998.DASAR-DASAR GIZI KULINER. Jakarta: Grasindo.
Langsung dari Narasumber yaitu Bapak A. S. Syamsudin.